logo

Supporting Program

1) Program Intensif Tartīl al-Qurʾān

Program intensif tartīl al-Qurʾān dijadikan salah satu program guna untuk merevolusi madrasah ini. Program ini termasuk salah satu muatan lokal MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo. Sebagai satuan pendidikan Islam, madrasah ini menjadikan pembelajaran tartīl al-Qurʾān sebagai panglima. Proporsi jam belajar tartīl al-Qurʾān sebanyak delapan jam pelajaran/minggu, dengan model pembelajaran setiap hari senin sampai kamis secara bergiliran dimulai kelas I s/d VI. Dinamakan Intensif karena pembelajaran tartīl jumlah peserta didik maksimal dalam satu kelompok sebanyak dua puluh. Masing-masing kelompok diklasifikasikan berdasarkan jilid dan juz sesuai dengan kemampuan peserta didik. Penentuan tersebut bagi kelas I berdasarkan hasil tes tartīl al-Qurʾān. Tes kemampuan membaca al-Qurʾān kelas I dilakukan pada hari pertama menjadi peserta didik, sedangkan bagi kelas II s.d VI berdasarkan hasil tasḥīh jilid dan/ atau al-Qurʾān.

Tasḥīh jilid bacaan al-Qurʾān peserta didik MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo dibagi menjadi tiga tahapan. Pertama; 1) Tasḥīh halaman 1 s.d. 10, 2) Tasḥīh halaman 1 s.d. 20, 3) Tasḥīh halaman 1 s.d. 30. Untuk al-Qurʾān 30 juz tahapan tasḥīh antara lain; 1) juz 1 s.d. 10 disebut kelas Marḥalat al-ūla, 2) juz 11 s.d. 20 disebut kelas Marḥalat al-wusṭā dan, 3) juz 21 s.d. 30 disebut kelas Marḥalat al-akhīr. Tujuan tasḥīh adalah untuk mengetahui kemampuan bacaan al-Qurʾān peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. Kelancaran dan ketepatan dalam pelafalan huruf menjadi penentu kenaikan halaman dan/atau juz berikutnya. 

Mekanisme kenaikan jilid dan juz dalam pembelajaran al-Qurʾān harus melalui beberapa tahapan. Peserta didik/santri dinyatakan naik jilid dan/atau juz bila sudah dapat membaca dengan benar dan lancar. Kewajiban dalam melakukan tes adalah koordinator pembelajaran al-Qurʾān di satuan pendidikan dan/atau kepala untuk lembaga non formal seperti taman pendidikan al-Qurʾān. Bila regulasi ini dilakukan dengan baik, maka hasilnya akan menjadi baik. Hasil dapat diketahui pada waktu munaqasah al-Qurʾān.

Dalam pembelajaran tartīl al-Qurʾān metode yang digunakan adalah Buku belajar membaca Al-Qurʾān  At-Tahsin. Penggunaan buku At-Tahsin tesebut dengan berbagai pertimbangan di antaranya; 1) MI Muslimat NU Pucang ingin berperan dalam metode cepat baca Al-Qur’an, 2) Tidak dijual bebas, artinya pengguna harus mengikuti pembinaan Training of Trainer (TOT) selama 13 kali pertemuan, 3) Penyusunan buku merupakan mandat dari PC Muslimat NU Cabang Sidoarjo, 4) Kelulusan peserta didik dalam membaca al-Qurʾān melalui munaqosah dengan penguji tim Tahsin Pusat, 5) Peserta didik yang dinyatakan lulus mendapat ijazah dari Tim Tahsin Pusat MI Muslimat NU Pucang. 

Bahwa dalam penggunaan buku At-Tahsin tidak seperti buku belajar membaca al-Qurʾān yang dijual bebas dengan tujuan untuk mengontrol kualitas bacaan al-Qurʾān pengguna buku At-Tahsin. Selain itu lembaga dan/atau satuan pendidikan guru-gurunya sudah mengikuti program pembinaan guru pengajar al-Qurʾān selama sembilan bulan di kantor BMQ At-Tahsin Pusat dan/atau Kantor Cabang Kecamatan. Pengawasan juga dilakukan oleh At-Tahsin melalui ujian santri, guna untuk memastikan bacaan al-Qurʾān peserta didik/santri sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwīd, dan memahami bacaan-bacaan gharāybul Qurʾān.

2) Program Intensif Tahfīdz

Pembelajaran tahfīdz al-Qurʾān merupakan kelanjutan dari program intensif tartīl al-Qurʾān bagi peserta didik yang sudah dinyatakan lulus munaqasah al-Qurʾān 30 juz. Jam pelajaran tahfīdz al-Qurʾān sebagaimana program intensif al-Qurʾān yakni delapan jam/minggu. Adapun pembagian kelompok berdasarkan kemampuan dan juz yang dihafalkan. Pembelajaran tahfīdz dimulai dari juz 30,[6] dengan pertimbangan bahwa surat dalam juz 30 tidak asing bagi peserta didik. Model pembelajaran tahfīdz dengan model setoran kepada guru tahfīdz sesuai dengan kemampuan masing-masing. Peserta didik dalam menghafalkan saling simak secara berhadapan. Model seperti ini memiliki fungsi saling kontrol urutan ayat dalam hafalan sekaligus pemantapan hafalan.[7]

Sedangkan mekanisme kenaikan juz dalam pembelajaran tahfīdz melalui tahapan munaqasah sebagaimana pembelajaran tartīl al-Qurʾān. Peserta didik dinyatakan naik ke juz berikutnya bila sudah dinyatakan lulus oleh tim Tahsin Pusat MI Muslimat NU Pucang. Untuk munāqasah tahfīdz al-Qurʾān selain juz satu dan seterusnya, ketentuan diberlakukan oleh tim munāqis adalah menghafalkan juz sebelumnya yang sudah pernah dihafalkan dan dinyatakan lulus. Kebijakan ini diambil untuk menjaga hafalan peserta didik pada juz yang sudah pernah dihafalkan supaya tetap terjaga hafalannya.[8] Lilis Zunaidah, selaku koordinator pembelajaran tahsin dan tahfīdz al-Qurʾān MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo menyampaikan,

Peserta didik yang akan mengikuti munāqasah tahsin dan tahfīdz al-Qurʾān harus melalui tahapan pre test. Pre- test dilakukan oleh kepala madrasah bertempat di kantor kepala madrasah. Kegiatan ini sangat positif bagi guru al-Qurʾān agar lebih selektif dalam menentukan peserta didik sebelum mengikuti munāqasah. Karena pre-test adalah screening penentuan kelayakan peserta didik dalam mengikuti munāqasah tahsin dan/ atau tahfīdz.[9]

3. Full Day School

Inovasi program berikutnya untuk meningkatkan mutu madrasah ini adalah penerapan  full Day school. Seiring dengan perkembangan zaman dan jumlah penduduk kabupaten Sidoarjo yang semakin meningkat dari tahun ke tahun yang di sebabkan banyaknya pendatang dari kota lain ke Sidoarjo yang rata-rata pasangan muda baru menikah yang mereka berdua adalah pekerja (parent-career) untuk memenuhi kebutuhan hidup. Peluang tersebut dibaca MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo dengan dukungan lokasi strategis di jantung kota Sidoarjo untuk membuka sekolah full day sebagai wadah bagi anak-anak dari parent-career tersebut supaya dapat mencegah kegiatan negatif yang dapat menjerumuskan anak-anak. Sebagaimana penyataan Hj. Nur Kholishoh sebagai berikut;

Program full day di MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo, berawal dari banyaknya masyarakat migran ke kota Sidoarjo. Perkembangan perumahan-perumahan di tengah dan pinggiran kota Sidoarjo menjadi pangsa pasar baru dan kami jadikan peluang besar untuk membuka program full day. Kami yakin pasangan muda rata-rata keduanya pekerja akan mencari pendidikan berkualitas dengan jam belajar sampai sore hari. Prediksi kami tidaklah meleset, dengan program full day, perkembangan jumlah peserta didik semakin meningkat. [10]

Kepiawaian pihak manajemen madrasah dalam menangkap peluang sangat baik sekali. Lokasi madrasah yang strategis terletak di jantung kota Sidoarjo dan kebutuhan masyarakat perkotaan yang disibukkan dengan pekerjaan sangat menunjang dalam penerapan full day school sebagai pilihan utama orang tua menitipkan putra-putrinya tanpa harus memiliki rasa khawatir terpengaruh pergaulan negatif.

Proses kegiatan belajar mengajar full day school selama lima hari sekolah di mulai dari pukul 06.45 s.d. 15.30. Adapun jadwal kegiatan tersebut terdeskripsi sebagai berikut;

Jadwal kegiatan kelas I s.d III

No

Jam Kegiatan
1 06.00 – 06.45 Berangkat ke madrasah memiliki wudlū
2 06.45 – 07.30 Hafalan Asmāul Husnā dan juz 30
3 07.30 – 08.40 Kegiatan belajar mengajar kecuali kelas tahsin al-Qurʾān
4 08.40 – 09.30 Istirahat
5 09.30 – 11.30 Kegiatan belajar mengajar di dalam kelas kecuali kelas tahsin dan tahfīdz al-Qurʾān
6 11.30 – 12.00 Shalat Ẓuhūr berjamaah di masjid dengan bacaan bil jahr.
7 12.00 – 12.30 Istirahat
8 12.30 – 14.00 Kegiatan belajar mengajar di dalam kelas
9 14.00 – 15.00 Kegiatan perbaikan, pemantapan dan pengayaan [11]
10 15.00 – 15.30 Shalat ‘Asar berjamaah dengan bacaan bil jahr
11 15.30 – 16.30 Pulang sekolah bagi peserta didik yang tidak mengikuti tambahan kelas olimpiade dan bimbingan khusus membaca, menulis dan menghitung.[12]

 
Jadwal kegiatan kelas IV s.d VI

No Jam Kegiatan
1 06.00- 06.45 Berangkat ke madrasah memiliki wudlū
2 06.45 – 07.30 Hafalan Asmāul Husnā dan juz 30, Istighāthah, shalat Ḍuḥā berjamaah, hafalan mufrādāt Arab
3 07.30 – 09.30 Kegiatan belajar mengajar di dalam kelas
4 09.30 – 10.00 Istirahat
5 10.00 – 12.30 Kegiatan belajar mengajar di dalam kelas kecuali kelas tahsin dan tahfīdz al-Qurʾān bagi kelas IV
6 12.30 – 13.00 Shalat Ẓuhūr berjamaah diawasi para walas, shalat dipimpin salah satu peserta didik. Setelah shalat dilanjutkan kultum[13] dari siswa sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan.
7 13.00 – 15.30 Kegiatan belajar mengajar di dalam kelas kecuali kelas tahsin dan tahfīdz al-Qurʾān bagi kelas V &VI
8 15.30 – 16.00 Shalat ‘Asar berjamaah dengan didampingi seluruh walas kelas IV s/d VI
9

 

16.00- 16.15 Kegiatan shopping materi matematika dan sains,[14]
10 16.15 -16.30 Pulang sekolah bagi peserta didik yang tidak mengikuti kegiatan perbaikan dan pengayaan,[15] serta tambahan kelas olimpiade
11 16.30 – 17.15 Kegiatan perbaikan, pengayaan dan kelas olimpiade

Dari jadwal di atas menggambarkan bahwa seluruh aktivitas peserta didik sehari penuh di madrasah ini di awali kegiatan ubudiyah. Penekanan ubudiyah dapat menggambarkan bahwa madrasah ini mendahulukan urusan akhirat dari pada urusan dunia. Kegiatan belajar mengajar secara keseluruhan mulai pukul 07.30 WIB, setelah kegiatan pembiasaan pagi kecuali bagi kelas satu yakni, pembelajaran tahsin al-Qurʾān dan tahfīdz pada pukul 07.30-08.40WIB. Pembelajaran tartīl dan tahfīdz al-Qurʾān ini berjenjang dari kelas I jam pertama sampai kelas VI jam berakhir sebelum shalat berjamah ‘asar. Untuk kegiatan pembelajaran di dalam kelas masing-masing kelas dibimbing dua orang guru (team teaching). Elaborasi dalam pembelajaran ini sangat membantu peserta didik dalam memahami pelajaran yang diajarkan. Sementara itu, kegiatan shalat berjamaah Ẓuhūr pada istirahat jam kedua, dengan bacaan shalat dikeraskan bagi kelas I s/d III, mulai dari takbiratul ikhram sampai salam dengan harapan peserta didik melalui pembiasan ini dapat menghafal bacaan shalat tanpa melalui proses hafalan. Hal ini disebabkan, karena pada kelas IV s.d VI shalat berjamaah Ẓuhūr dan ‘Asar menggunakan bacaan sesuai dengan ketentuan syar’i dengan dipelankan (bis-sirri).[16]

Perbaikan, pengayaan, bimbingan kelas olimpiade dan bimbingan khusus bagi siswa mendapatkan bengkel (kemampuan di bawah rata-rata) terjadwal setelah shalat ‘Asar. Penambahan kegiatan tersebut untuk mengakomodir peserta didik yang nilainya di bawah ranah kriteria ketuntasan minimal (KKM), peserta didik di ranah KKM dan di atas KKM. Perbaikan atau remedial teaching bertujuan agar siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat mencapai prestasi atau hasil belajar yang lebih baik. Sementara itu, kegiatan pengayaan merupakan kegiatan yang diberikan kepada siswa kelompok cepat agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal dengan memanfaatkan waktu yang tersedia. Kemampuan peserta didik di atas rata- rata diberikan fasilitas dengan kegiatan bimbingan olimpiade guna untuk mempersiapkan peserta didik pada event olimpiade tingkat kabupaten, propinsi, nasional dan Internasional. Kelas bengkel adalah kelas yang di khususkan untuk membimbing secara intensif bagi peserta didik yang memiliki kemampuan di bawah rata- rata dan sudah mengikuti beberapa kali remedial teaching.[17]

Sedikit perbedaan jam pelajaran pada hari Jumat bagi kelas I s.d III sampai dengan pukul 10.45 WIB, dan kelas IV s.d. VI pukul 15.00 WIB dimanfaatkan untuk latihan soal-soal try out mata pelajaran Ujian nasional dan Internasional. Persiapan menghadapi ujian tersebut dilakukan sejak dini diharapkan akan memiliki dampak signifikan pada hasil ujian peserta didik di kelas VI.[18] 

Seminggu sekali peserta didik MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo diberikan soal-soal try out secara berkala. Try out internal madrasah ini dilakukan setiap hari Jumat mulai pukul 13.00 s.d. 15.00 WIB. Sasaran kami adalah peserta didik kelas IV s.d. VI dengan harapan ketika nanti ujian nasional dan Internasional prestasi peserta didik sesuai dengan harapan madrasah yaitu di atas rata-rata standar peserta didik pada umumnya. Soal-soal try out ujian nasional yang kami berikan adalah mata pelajaran bahasa Indonesia, matematika dan ilmu pengetahuan alam. Sementara untuk try out ujian Internasional, materi soal yang kami berikan adalah mata pelajaran Math, English & Science”.[19]

4. Program Akselerasi (Percepatan)

Program akselerasi atau percepatan merupakan salah satu terobosan dilakukan MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo dalam rangka meningkatkan brand madrasah. Awal program akselerasi di madrasah ini dimulai pada tahun 2008 yang diikuti sebanyak 5 (lima) peserta didik pilihan dengan penambahan materi mata pelajaran ujian setiap hari. Peserta didik diminta datang lebih awal ke madrasah yaitu pada pukul 06.00 WIB untuk mendapatkan tambahan materi ujian tersebut. Kegiatan tersebut berlangsung selama satu tahun, kemudian peserta didik didaftarkan untuk mengikuti ujian akhir madrasah. Dari hasil ujian akhir/nasional yang diperoleh sangat peserta didik akselerasi sangat memuaskan dan nilainya di atas rata- rata kelas reguler dan juga diterima di SMP Negeri 1 pada program percepatan. Berawal dari situ madrasah ini memantapkan diri membuka kelas akselerasi secara terprogram untuk dijadikan salah satu program unggulan madrasah. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Syamsuhari, Kepala MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo, periode 2005 s.d. 2012 dan sekarang menjabat Penjamin Mutu madrasah;

Beberapa program untuk meningkatkan mutu lulusan madrasah sudah kami implementasikan di MI Muslimat NU NU Pucang ini. Salah satunya adalah program percepatan untuk mengangkat brand madrasah. Kami berharap nilai jual madrasah di masyarakat akan meningkat yang berdampak pada meningkatnya jumlah peserta didik. Program akselerasi kami awali memanfaatkan peserta didik kemampuannya di atas standar teman-temannya. Formula yang kami terapkan masih alami, sebatas tambahan pelajaran dan peserta didik masih duduk di bangku kelas lima. Dengan hasil sangat membanggakan, sehingga ke depan perlu kami kelola program ini dengan baik agar dapat menghasilkan lulusan yang lebih baik pula.[20]

Langkah-langkah perbaikan manajemen pada program akselerasi di MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo saat ini meliputi; a) mekanisme menjadi siswa akselerasi, b) materi yang di ajarkan, c) pengaturan waktu pelajaran, d) penentuan pendidik akselerasi, dan f) sistem penilaian. Ketentuan menjadi siswa akselerasi adalah peserta didik memiliki peringkat 1 (satu) sampai 5 (lima) pada nilai rapor ketika masih duduk di kelas I s.d. III. Jumlah peserta didik kelas akselerasi pada tahun 2018/2019 sebanyak dua puluh sembilan yang terdiri dari peserta didik yang naik ke kelas IV. Adapun kegiatan pembelajaran kelas akselerasi pada hakikatnya sama dengan kelas reguler, perbedaan terletak pada pemapatan materi pelajaran ditempuh selama dua tahun akan diselesaikan dalam satu tahun. Dampak dari pemapatan materi tersebut peserta didik harus ekstra dalam belajar. Jam belajar kelas akselerasi seperti kelas reguler, mulai pukul 06.45 s/d 15.30 WIB. [21]

Penilaian kelas akselerasi sesuai dengan kalender pendidikan yang sudah disusun oleh waka kurikulum. Pada kalender tersebut, waktu peserta didik untuk mengikuti pembelajaran efektif dalam satu semester rata-rata selama delapan minggu. Sedangkan sisanya dipakai untuk penilaian.[22]

5. Program Kelas Internasional (International Class Program)

Program kelas Internasional (ICP) MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo dimulai sejak tahun 2010. Inovasi program ini mengarah pada peningkatan mutu lulusan bertaraf Internasional. Kelas ICP dalam praktiknya mengimplementasikan kurikulum nasional dan adopsi adaptip kurikulum Cambridge. Istilah ICP sangat familiar didengar pada sekolah/ madrasah pengadopsi kurikulum Internasional Cambridge. MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo sebagai salah satu bagian member Cambridge SD Lab School Malang memiliki hak dan kewajiban kepada center seperti dicantumkan dalam naskah perjanjian kerja sama yakni, center berkewajiban memberikan bimbingan dan/atau pembinaan bagi tenaga pendidik untuk dapat mengimplementasikan program ICP. Sementara kewajiban madrasah adalah menyiapkan tenaga pendidik untuk diberikan pelatihan teknik mengajar dengan menggunakan kurikulum Internasional.[23]

Center merupakan sekolah/madrasah terakreditasi secara mandiri dari Cambridge, sedangkan member adalah madrasah yang mengimplementasikan kurikulum Internasional namun belum dapat legalisasi Cambridge. Proses member untuk menjadi center pada MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo dalam kurun waktu selama dua tahun. Pada tangal 18 April 2012 MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo terdaftar dari Cambridge International School sebagai sekolah Cambridge dengan ID 276.[24] Dampak secara langsung setelah menjadi center Cambridge di antaranya; 1) Penyelenggaraan ujian Internasional secara mandiri, 2) Mengadakan workshop dan sertifikasi Internasional in school, 3) Mengembangkan jaringan sekolah Cambridge seluruh Indonesia. [25]

Tingginya peminat kelas ICP di MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo sebagai indikasi masyarakat haus akan pendidikan berkualitas bagi putra-putrinya, hal tersebut dapat diketahui dari jumlah kelas ICP sebanyak 27 (dua puluh tujuh) rombel dari total keseluruhan jumlah 33 (tiga puluh tiga). Sedangkan 6 (enam) rombel kelas memilih reguler. Pemilihan kelas ICP tidak ditentukan kriteria khusus, tergantung pada pilihan dan keinginan orang tua ketika waktu melakukan pendaftaran peserta didik baru melalui pengisian form interview calon wali murid.[26] Adapun Perbedaan kelas ICP dan reguler antaranya;[27]

    1. Besaran biaya herregistrasi
    2. Kurikulum yang dipakai
    3. Bahan ajar adopsi dan adaptip
    4. Proses penilaian dari satuan pendidikan
    5. Penilaian Internasional dari Cambridge

Dari informasi tersebut, dapat diketahui terjadi perbedaan besaran biaya herregistrasi kelas ICP dan reguler disebabkan madrasah harus melakukan herregistrasi setiap tahun Cambridge. Registrasi sebagai pengakuan sebagai bagian dari siswa Internasional Cambridge yang berpusat di United of Kingdom (UK) di Negara Inggris. Peserta melalui satuan pendidikan didik bila tidak melakukan herregistrasi Cambridge akan berdampak pada seluruh hak sekolah/madrasah ditangguhkan sementara (suspended) menjadi sekolah/ madrasah Cambridge. Akibat penangguhan tersebut sekolah/ madrasah tidak dapat mendapatkan hak-haknya antara lain; 1) Entri data menjadi siswa Cambridge, 2) mendapatkan kesempatan workshop, 3) tidak dapat mengikuti penilaian Cambridge International Primary Progression Test (CIPPT) dan ujian check point dan, 4) tidak dapat mengakses informasi dari Cambridge berhubungan dengan kurikulum. Sebagaimana penjelasan Penjamin Mutu MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo sebagai berikut;

Sebagai satuan pendidikan yang sudah menjadi center Cambridge, beberapa kewajiban madrasah ini dalam tiap tahun harus diselesaikan kepada Cambridge International Assessment In Education berpusat di UK yaitu dengan melakukan herregistrasi ulang. Hal ini sangat wajar bagi satuan pendidikan yang mengadopsi kurikulum Internasional. Bila kewajiban tidak dijalankan secara otomatis hak madrasah untuk sementara ditangguhkan, hak tersebut antara lain; mengikuti ujian Internasional, upload menjadi siswa Cambridge, dan workshop. Maka sangatlah wajar bila terjadi disparitas biaya antara kelas ICP dan reguler.[28]

Perbedaan lain terdapat pada materi tiga mata pelajaran kelas ICP yakni, bahasa Inggris, matematika dan Ilmu pengetahuan alam (IPA) berbasis adopsi dan adaptip. Kedalaman materi pada tiga mata pelajaran tersebut mengacu pada framework cambridge[29] dengan standar untuk mengukur kemampuan siswa berskala Internasional. Disparitas materi ini sangat mempengaruhi mutu lulusan pada satuan pendidikan. Sementara itu, untuk proses penilaian kelas Internasional dari satuan pendidikan dengan istilah Center Progression Test (CPT), dan Cambridge Intenational Primary Progression Test (CIPPT) serta Ujian Check Point.[30] Ketiga penilaian tersebut, sebagai pemetaan kemampuan peserta didik di seluruh dunia. Berdasarkan data tersebut, kurikulum Cambridge mengedepankan kedalaman dan keluasan materi, semakin tinggi kompetensi peserta didik akan berpeluang memenangkan persaingan global.

6. Tiada hari tanpa Matematika, IPA dan Bahasa Inggris

Mata pelajaran matematika, IPA dan Bahasa Inggris sering menjadikan peserta didik phobia dalam mempelajarinya. Peserta didik memiliki image ketiga pelajaran tersebut sulit, karena harus menghitung, menghafal dan mempraktikkan dalam keseharian. Untuk mengatasi permasalahan tersebut Madrasah ini membuat inovasi program tiada hari tanpa matematika, IPA dan bahasa Inggris dengan tujuan madrasah berusaha membiasakan peserta didik terbiasa mempelajari agar menumbuhkan kecintaan terhadap mata pelajaran di atas.

Program tiada hari tanpa matematika, IPA dan bahasa Inggris diadopsi MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo dari ADNI International School Malaysia. Tujuan madrasah mengimplementasikan program ini adalah meningkatkan kompetensi akademik peserta didik di bidang matematika, IPA dan bahasa Inggris serta lulusan madrasah mampu berkomunikasi bahasa Inggris secara aktif. Selanjutnya, perpaduan eksakta dan bahasa dijadikan program pembiasaan madrasah ini agar dapat mengangkat brand madrasah, sehingga memiliki dampak signifikan daya jual madrasah di masyarakat. 

Madrasah menerapkan program tiada hari tanpa matematika, IPA dan Bahasa Inggris dengan maksud membantu peserta didik menyukai pelajaran tersebut. Salah satu kunci dari permasalahan kesulitan dalam belajar adalah senang terhadap pelajaran. Dengan tumbuhnya kesenangan terhadap pelajaran akan memberikan motivasi tersendiri bagi peserta didik dalam belajar. Tumbuhnya kesenangan dapat dilakukan dengan seringnya peserta didik mendapatkan pelajaran tersebut sehingga dapat merasakan bahwa mata pelajaran tersebut mengasyikkan, tidak sesulit yang dibayangkan. Segala sesuatu yang dirasakan sulit akan menjadi mudah bila sering dipelajari dan dicoba. Bila peserta didik sudah enjoy peningkatan kompetensi akademik akan mengikutinya dan dapat meningkatkan minat masyarakat menyekolahkan di madrasah ini. Program ini kami adopsi ketika kami melakukan studi banding ke ADNI Intenational School di Malaysia.[31]

      

Madrasah melakukan inovasi program untuk menumbuhkan kecintaan terhadap mata pelajaran yang dianggap sulit melalui program pembiasaan tiada hari tanpa matematika, IPA dan bahasa Inggris. Peserta didik yang terbiasa mempelajari mata pelajaran tertentu akan dapat mengatasi problematika yang dihadapi termasuk kesulitan dalam hal materi pelajaran.

Teknis pengimplementasian tiada hari tanpa matematika, IPA dan bahasa Inggris di madrasah ini dengan mengintegrasikan pada jadwal pelajaran. Proporsi jam pada tiga mata pelajaran tersebut diberikan tambahan jam pelajaran dari ketentuan minimal struktur kurikulum yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Dua jam pelajaran setiap hari dan pada pembiasaan di pagi dengan model shopping soal matematika dan IPA ketika jam istirahat kedua dijadikan strategi menyukseskan program tersebut. Setiap hari peserta didik menyelesaikan 2 (dua) soal matematika, IPA dan mendeskripsikan sesuatu (khusus mata pelajaran bahasa Inggris). 

Pelaksanaan program tiada hari tanpa matematika, IPA dan bahasa Inggris. Madrasah mengalokasikan waktu pembelajaran dengan menambahkan jam pelajaran pada mata pelajaran tersebut. Struktur kurikulum Kemendikbud dan Kemenang tetap kami patuhi sesuai ketentuan. Namun, madrasah menambahkan jam pelajaran yang setiap hari harus terdapat mata pelajaran tersebut. Selain itu, juga pada pembiasaan dengan memberikan soal-soal matematika, IPA dan bahasa Inggris untuk mendukung program tersebut. Program ini adalah bagian dari terobosan madrasah dalam meningkatkan kualitas lulusannya agar dapat bersaing dengan sekolah/madrasah pada umumnya di level nasional maupun Internasional.

Program ini merupakan salah satu program yang bertujuan agar lulusan MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo memiliki kompetensi di atas rata- rata sekolah/ madrasah pada umumnya. Satuan pendidikan dikatakan unggul dan berkualitas jika lulusannya dapat memenangkan persaingan dengan satuan pendidikan lain untuk merebut kesempatan yang sama pada pendidikan lanjutan dan dunia kerja.

7. Sukses Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (USBN)

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal pada Ujian Akhir Sekolah Berstandar nasional (USBN). MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo menyiapkan peserta didiknya mulai dari kelas IV (empat) supaya sukses menghadapi USBN. Model yang diterapkan adalah try out secara internal dan eksternal. Try out internal madrasah diserahkan pada guru mata pelajaran yang di USBN kan yaitu bahasa Indonesia, Matematika dan IPA. Soal- soal try out dibahas oleh pendidik untuk mengetahui tingkat kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan soal–soal tersebut dan tingkat kesulitannya. Sementara itu, bagi peserta didik yang mendapatkan nilai di bawah standar yang sudah di tetapkan madrasah akan diberikan bimbingan belajar khusus.

Try out eksternal sebagai bagian dari sukses USBN dengan melibatkan pihak dari luar madrasah, yakni bekerja sama dengan bimbingan belajar. Kegiatan ini bertujuan untuk dijadikan komparasi hasil nilai peserta didik ketika try out internal. Try out eksternal dilaksanakan madrasah 2 (dua bulan) sekali dengan materi soal sesuai dengan tingkatan kelas peserta didik. Hasil try out akan dijadikan bahas evaluasi dan perbaikan program sukses USBN madrasah untuk dapat memaksimalkan usaha madrasah dalam meningkatkan kemampuan peserta didik. 

Madrasah berusaha secara maksimal untuk meningkatkan hasil USBN, program yang dilakukan madrasah adalah try out secara periodik. Madrasah memberikan jadwal khusus try out setelah shalat Jumat bagi kelas IV s.d. VI mulai pukul 13.00 s.d. 15.00 WIB. Pembahasan soal yang sudah dikerjakan peserta didik dilakukan pendidik pada saat itu juga, guna untuk mengetahui hasilnya. Peserta didik dalam kategori low akan dikelompokkan dan diberikan tambahan waktu bimbingan sepulang sekolah. Kami juga melakukan kerja sama dengan bimbingan belajar yang sudah terpercaya di masyarakat untuk membandingkan nilai try out peserta didik yang sudah dilakukan oleh internal madrasah,sekaligus untuk mengukur kemampuan peserta didik jika try out eksternal dilakukan Se kabupaten atau Se Jawa Timur.

Madrasah ini tidak secara instan agar peserta didiknya mendapatkan hasil maksimal ketika USBN. Madrasah menyiapkan peserta didik untuk sukses USBN selama 3 (tiga) tahun dengan memberikan soal-soal try out dalam menghadapi ujian kelas VI (enam). Selain itu, madrasah ini juga memberikan fasilitas dengan memberikan jam tambahan untuk peserta didik kategori di bawah ranah kriteria kelulusan yang sudah ditetapkan madrasah.

8. Pembiasaan shalat Ḍuḥā, Ẓuhūr dan ‘Asar berjamaah, hafalan surat-surat pendek, Yāsīn, dan tahlīl

Sebagai satuan pendidikan Islam, MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo tidak menginginkan peserta didiknya meninggalkan budaya religius sebagai ciri khas madrasah. MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo ini dalam membangun budaya tersebut dengan program pembiasaan shalat Ḍuḥā, Ẓuhūr, ‘Asar berjamaah dan hafalan surat-surat pendek, Yāsīn dan tahlīl. Program ini dilakukan dalam rangka merealisasikan visi dan misi MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo yaitu meluluskan peserta didik ahli dzikir, dan ahl as-Sunnah wa al-Jamā’ah. Pertimbangan lain madrasah adalah membekali peserta didik agar dapat menyeimbangkan dalam hal Intelektual, emosional dan spiritual.

Pelaksanaan program ini pada pagi hari mulai pukul 06.45 s.d. 07.30 WIB dengan pembagian kelas bawah dan atas. Shalat Ḍuḥā di khususkan peserta didik kelas atas sementara kelas bawah menghafalkan surat-surat pendek, dan Asmāul Husnā di dalam kelas masing-masing. Sedangkan peserta didik kelas atas sebelum shalat Ḍuḥā di masjid menghafal Asmāul Husnā, shalat Ḍuḥā berjamaah dan hafalan surat-surat pendek serta hafalan Yāsīn, dan tahlīl setiap hari Jumat. Untuk shalat Ẓuhūr dan ‘Asar berjamaah dijadikan dua gelombang kelas bawah dan atas karena pertimbangan kapasitas masjid sekitar 600 peserta didik. Sementara jumlah keseluruhan peserta didik madrasah adalah 1155.

Madrasah berusaha menyeimbangkan kemampuan antara kemampuan umum dan agama. Budaya keagamaan ditanamkan kepada peserta didik melalui pembiasaan pagi shalat berjamaah Duḥā, hafalan Asmāul Husnā, surat-surat pendek, Yāsīn dan tahlīl serta shalat berjamaah Ẓuhūr dan ‘Asar. Tujuan kami membuat program tersebut agar peserta didik terbiasa dalam shalat berjamaah dan selalu mengamalkan ajaran ahl as-Sunnah wa al-Jamā’ah. Karena MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo ini adalah satuan pendidikan di bawah wadah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama’. Maadrasah juga menginginkan peserta didik yang lulus dari madrasah ini cerdas dalam akademik, bijak dalam menyelesaikan persoalan dan segala aktivitas yang dilakukan hanya untuk mencari ridla Allah SWT.

MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo menanamkan dasar- dasar ubudiyah dimulai sejak dini dengan tujuan peserta didik memiliki kesadaran bahwa shalat adalah kebutuhan bagi setiap insan, dan tidak mudah terpengaruh terhadap ajaran-ajaran selain Ahl as-Sunnah wa al-Jamā’ah.

9. Penilaian akhlak peserta didik

Penilaian akhlak peserta didik memiliki tujuan membentuk kepribadian peserta didik. Kepribadian baik dapat dibentuk melalui penilaian akhlak dalam bergaul dengan sesama teman, keluarga, terutama dalam berubudiyah kepada Allah SWT. Proses pembentukan akhlak di MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo menggunakan instrumen penilaian akhlak yang terdiri dari;1) penilaian orang tua di rumah (parent assessment), 2) peer assessment, penilaian teman sejawat (peer assessment) untuk saling melakukan pengawasan,3) penilaian guru (teachers assessment) sebagai komparasi self dan peer assessment, dan 4) penilaian diri sendiri (self assessment), untuk menilai prilaku sendiri sebagai bentuk kontrol dan evaluasi diri serta melatih kejujuran. Hasil penilaian tersebut akan dilakukan cross-check untuk membuktikan bahwa nilai yang diberikan sesuai dengan fakta di lapangan. Orang tua dan peserta didik akan dihadirkan bersama-sama di madrasah untuk sinkronisasi akhlak berdasarkan nilai yang sudah diberikan pada instrumen.

Tindakan MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo dalam membentuk akhlak peserta didik selain dengan instrumen penilaian, juga melalui nasihat-nasihat tentang adab peserta didik. Kegiatan tersebut dilakukan pada pagi hari setelah pembiasaan pagi shalat Ḍuḥā berjamaah oleh tim akhlak MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo. Selain itu, pendidik memiliki kewajiban untuk melakukan pengawasan prilaku peserta didik ketika jam istirahat pertama dan kedua untuk mengeliminasi dan mencegah prilaku peserta didik yang kurang terpuji. Penilaian akhlak ini dapat membentuk pribadi peserta didik memiliki sifat arif, bijaksana dalam bertindak dan sopan dalam bertutur kata serta taat kepada kedua orang tua dan perintah Allah SWT.

10. Peningkatan Kualitas Pendidik Melalui Kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG)

Beberapa program inovasi yang dilakukan MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo guna meningkatkan kualitas peserta didik diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidiknya. MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo dalam rangka meningkatkan kualitas pendidik melalui kegiatan kelompok kerja guru (KKG) internal madrasah. Upaya ini sebagai sarana standarisasi kompetensi pendidik. Berbagai disiplin ilmu yang dimiliki pendidik dari berbagai kualifikasi akademik perguruan tinggi saling berbagi (share) keilmuan sesuai bidangnya. Awal kegiatan KKG standarisasi kemampuan bahasa Inggris pendidik, dengan target pendidik MI Muslimat NU Pucang menguasai bahasa Inggris secara aktif.

Selanjutnya standarisasi dalam bidang eksakta (Matematika dan IPA) bagi seluruh pendidik, sehingga pendidikan tidak hanya kompeten di bidang bahasa, namun juga mata pelajaran matematika dan IPA. Kegiatan peningkatan kualitas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan terobosan-terobosan program madrasah agar sesuai dengan yang dikehendaki madrasah yaitu menjadi madrasah yang favorit dan kebanggaan warga Nahdliyin. 

Program-program baru madrasah selalu diimbangi dengan peningkatan sumber daya pendidik, karena pendidik adalah pelaku di lapangan dalam rangka menyukseskan program tersebut. Seperti pada program tiada hari tanpa matematika, IPA dan bahasa Inggris. Pendidik terlebih dahulu distandarkan dalam berbahasa, materi matematika dan IPA supaya dapat melaksanakan program dengan baik. Awalnya pendidik madrasah hanya menguasai disiplin ilmu sesuai dengan bidang kualifikasi akademiknya. Namun setelah standarisasi pendidik dapat menguasai beberapa disiplin ilmu.

MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo sangat menghargai kinerja pendidik sesuai dengan masa kerjanya. Madrasah tidak mencari pendidik baru dalam rangka menyukseskan program-program inovasinya, namun memberdayakan tenaga yang sudah ada dengan melakukan peningkatan melalui KKG.